Bendul Merisi Utara VIII No. 8
Surabaya - Jawa Timur

PANDEMI BERLANJUT, TERAPI TAK BOLEH SURUT!!

Belajar bahasa tidak bisa berhenti. Ia harus terus menerus dilatihkan setiap hari apapun kondisinya. Oleh karenanya, dalam masa pandemi ini Yayasan Aurica tetap berupaya untuk bisa melayani anak-anak melalui terapi online.

Selama proses terapi, orang tua sepenuhnya mengendalikan situasi dan melaksanakan semua target yang sudah tertera di Planning Session. Sedangkan terapis bertugas memandu, memberikan contoh, dan menjawab semua pertanyaan orang tua terkait praktik ketika di rumah baik saat belajar di meja maupun saat beraktivitas sehari-hari.

Manfaatnya sangat banyak!

Orang tua menjadi lebih memahami penerapan AVT karena selalu menerapkannya secara langsung, tidak hanya melihat bagaimana terapis menerapi anaknya.

Orang tua menjadi lebih memahami dan mampu mengendalikan anak-anaknya. Tidak ada pilihan! Situasi terapi online hanya bisa optimal apabila anak kooperatif, sehingga orang tua senantiasa berusaha agar anaknya kooperatif saat terapi online dan memanfaatkan waktu 1 jam dengan sebaik-baiknya.

Orang tua tidak akan kehilangan arah. Walaupun tidak bisa terapi tatap muka, orang tua tetap memiliki target yang tersusun sesuai kondisi anak dari terapis tiap minggunya.

Setting tempat yang sangat natural. Penerapan AVT di rumah membuat anak bisa lebih nyaman, menjadi dirinya sendiri, bahasa yang diberikan sangat alamiah sesuai kondisi di rumah, pembelajaran juga bisa langsung praktik (tidak hanya di meja, tapi bisa keliling rumah untuk menerapkan pembahasaan sehari-hari sesuai kondisi rumah). Sering sekali saat terapi online, sengaja tidak memakai mainan, melainkan langsung dengan benda di rumah, tiap ruangan yang ada di rumah, orang-orang yang ada di rumah, dll.

Terapis tidak kehilangan pemahaman tentang anak didik yang menjadi tanggung jawabnya. Bayangkan apabila selama pandemi yang sudah lebih dari 1,5 tahun, tanpa terapi tatap muka, tanpa terapi online, maka terapis akan blank terhadap kondisi anak dan kesulitan mencanangkan target ketika tiba-tiba terapi berjalan normal kembali. Sebaliknya, orang tua kehilangan arah dan anak akan stagnan pencapaiannya. Bagaimanapun habilitasi terhadap anak gangguan pendengaran pengguna teknologi pendengaran harus terencana, sistematis, dan berkesinambungan.

Anak-anak tetap bisa riang, belajar bersama saudaranya, pengasuhnya, orang tuanya, boneka dan mainan kesukaannya, bahkan bahasa ekspresifnya sangat berkembang karena seringkali mereka akan memperkenalkan “ini siapa, punya mainan apa yang baru, ada situasi apa di rumah”, dan masih banyak lagi. Banyak hal yang bisa kita stimulasi sebagai bahan komunikasi saat anak-anak itu terapi dirumahnya, banyak sekali!!

Jadi, walau pandemi terapi tak boleh berhenti!!

Ditulis oleh Elly Yayasan Aurica

Rasanya senang sekali karena berkesempatan untuk mendapatkan ilmu dan berdiskusi dengan pakar AVT Internasional, Cheryl L.Dickson, M.Ed., LSLS Cert. AVT

Pembahasannya banyaaaaak.. Minggu ini, salah satu pembahasannya adalah mengenai Usia Mendengar.

Usia Mendengar sangat besar pengaruhnya dalam menentukan target dan penanganan anak di tiap bulannya.

Usia Kronologis anak tidak bisa dipaksakan menjadi satu-satunya pijakan dalam membuat target dan penanganan. Justru Usia Mendengar lah yang harusnya dicermati supaya target dan penanganan sesuai dengan kondisi MASING-MASING anak.

Usia Mendengar yang dimaksud adalah dihitung saat anak mendapat manfaat yang signifikan dari alatnya DAN mendapatkan habilitasi yang tepat secara konsisten. 

Dengan kata lain,

  • Alat tersebut sesuai dengan kebutuhan anak dan mampu meng-cover kebutuhan anak
  • Alat tersebut mampu optimal membantu anak dalam mengakses bunyi atau suara sebagai bekalnya mengenal bahasa
  • Alat itu dipakai sepanjang hari (waking hours)
  • Anak menjalani habilitasi secara tepat dan konsisten 

Mari kita hitung usia mendengar anak kita kembali. Lalu lakukan evaluasi, apakah target dan penanganannya sesuai usia mendengarnya, lebih lambat, lebih cepat atau mungkin overload?

 

 

Kita telah saksikan anak-anak dengan gangguan pendengaran yang memiliki kemajuan setelah implan koklea,walaupun hanya di salah satu sisi telinga. Dia memiliki kemampuan dengar yang baik,kosakata yang banyak,kemampuan kognisi dan komunikasi yang baik pula.

Sayangnya,ada sebagian anak yang implan koklea pada kedua telinganya selama 1-2 tahun namun untuk mendengar dengan jelas saja sulit,kosakatanya masih sangat minim,pemahamannya terhadap benda-benda disekitarnya juga masih minim,apalagi untuk berkomunikasi,lebih sulit lagi ia melakukannya. Padahal ia tidak memiliki kendala fisik lain selain gangguan pendengaran.

Apa yang membedakan keduanya? Dari pengamatan yang ada,habilitasi keluarga yang membedakan hasil keduanya.

Pada artikel “The Power of Hearing” yang telah kami tampilkan, implan koklea tidak menjamin anak bisa mendengar seutuhnya apabila tanpa stimulasi terus menerus oleh orang tua/ahli dalam habilitasi dengarnya.

Kita yang sudah dewasa bisa flashback,bila masa kecil kita sangat jarang distimulasi dengan diajak komunikasi baik keluarga inti,keluarga besar atau lingkungan sekitar,akankah perbendaharaan kata,pemahaman benda, dan kemampuan bicara kita bagus?

Beruntungnya kita sebagai orang tua yang memiliki pendengaran normal,akses suara sangat banyak,tidak hanya dari keluarga. Sehingga kita mendapat benefit dari itu untuk mendengar secara tidak sengaja mengenai hal-hal di sekitar kita. Seperti yang juga telah disinggung dalam “The Power of Hearing”,penelitian lapangan dibidang psikologi perkembangan menyebutkan bahwa 90% anak-anak usia dini,belajar secara insidentil tentang bahasa lisan dan juga tentang dunia. (Flexer,1999)

Fenomena-fenomena yang kami angkat memang berbeda,satu sisi dengan gangguan pendengaran,sisi lain pendengaran normal. Namun universalnya adalah,telinga sebagai alat dengar mutlak butuh input suara untuk dikirim ke otak dan diartikan.

Anak dengan gangguan pendengaran memiliki keterbatasan jarak pendengaran. Untuk itu,mereka sangat-sangat membutuhkan pendampingan kita sebagai orang tua untuk memasukkan suara yang bermakna (meaningful sound) kepadanya. Kitalah orang tua,yang paling dekat dan bertanggung jawab atas kehidupan mereka, kini dan nanti. Hingga mereka benar-benar diharuskan untuk hidup sendiri dan survive setelah kita meninggal. 

Jika orang tua mampu berbicara 1440-1500 kata/jam,maka anak dengan pendengaran normal mampu mengekspresikan rata-rata 400 kata/jam. Pada anak dengan gangguan pendengaran,orang tua butuh memperdengarkan dan mengajarkan kata sebanyak 2-3x lipatnya. (Todd R. Risley dalam Kendrick). 

Beda proses,beda pula hasilnya. Habilitasi dari anggota keluarga sangat-sangat berpengaruh signifikan untuk meningkatnya perkembangan anak.

Bila terapis mampu menunjang perkembangan kemampuan dengar dan bicara anak dalam kurun terapi (belajar di meja) 1 minggu 1-2x dan 1 jam pada masing-masing pertemuan,maka hasilnya akan lebih baik bila anda tambahkan jam terapi tersebut di rumah dengan desain kegiatan sehari-hari. Kuncinya adalah “sering diajak ngobrol” dalam kegiatan sehari-hari yang dia,kita atau orang lain lakukan. Karena anak-anak pada dasarnya membutuhkan input suara/bunyi dari kita dan lingkungan sekitarnya untuk mendapatkan berbagai macam pemahaman. Manfaatnya,anak tidak hanya memahami konsep tapi juga mampu menerapkan konsep diaktivitasnya sehari-hari.

Anak anda susah untuk diajak duduk diam di meja untuk terapi? Tidak masalah. Dimanapun tempatnya,selalu ada media untuk mengembangkan potensi dengarnya. Ketika ia haus ingin minum, lapar ingin makan, gerah butuh kipas/AC, ngantuk ingin tidur,dll. Ketika perjalanan dan berada di mobil,kereta,kapal atau pesawat. Ketika ke mall,kebun binatang,toko buku,taman bermain,dls. Banyak hal yang bisa kita amati dan jadikan sarana perbincangan dengan anak untuk selalu menstimulasi dengarnya,membiasakannya agar familiar dengan suara dan benda-benda di sekitarnya,melatih ia bicara,memahamkan berbagai macam konsep seperti kata kerja,kata sifat,posisi,warna,bentuk,dan berbagai tanya jawab dengan beragam variasinya.

 

Oleh Elly Yayasan Aurica

Hai Ayah Bunda... Bagaimana kabar hari ini?
Pasti Ayah Bunda pernah muda kan? Atau bahkan ada yang masih muda hingga hari ini.. hehehe

Pernahkah Ayah Bunda menulis di dalam buku diary? Hmm... udah ga zamannya kali yaaa.. Kan sekarang udah zaman gadget.. hehehe

Nah, bagi Anda yang mendampingi Ananda dengan gangguan pendengaran, kehadiran buku catatan akan sangat membantu. Diary tersebut berisi curahan hati yang lengkap dengan perjalanan belajar mendengar bagi Ananda tercinta dan bisa menjadi acuan sehingga arah belajar Ananda lebih jelas.

Dalam diary tersebut kiranya Ayah Bunda bisa mengisi dalam bentuk deskripsi atau boleh juga dalam bentuk tabel. Disana tertera tujuan pembelajaran beserta materi dan metode pembelajaran yang sehari-hari Ayah Bunda terapkan kepada Ananda.

Tiap-tiap pembelajaran disertai pula dengan keterangan waktu seperti tanggal dan hari maupun keterangan atas respon Ananda terhadap materi pembelajaran tersebut. Kalau dapat PR dari terapis, bisa dicantumkan juga? Bisa banget...bahkan harus. Supaya tetap sejalan.

Jangan lupa pula menuliskan Usia Kronologis, Usia memakai alat, Usia saat menjalani habilitasi intensif maupun Usia mendengar yang akurat atau keterangan lain yang Ayah Bunda butuhkan, misalnya saja adanya gangguan penyerta lain. Sebagai tolok ukur dalam menilai sejauh mana perkembangan Ananda sejak ia memulai belajarnya pertama kali dan membandingkan “gap” atau kesenjangannya dengan usia kronologis.

Jadiiiiiiiiii.....
Bagi Ayah Bunda yang Anandanya baru belajar mendengar. Yuuuk, kita awali dengan menuliskan “Diary” untuk Ananda... Diary itu akan menorehkan sejarah panjang bagi Ananda yang di masa depan akan menjadi kenangan manis. Betapa perjuangannya dalam mencapai titik puncaknya sangat luar biasa. Dalam diary itu tercermin pula betapa Ayah Bunda sangat keras dalam berjuang mendampingi mereka.

Sudah terlanjur berjalan tapi belum menulis buku diary? Tidak papa... tidak ada kata terlambat untuk memulai menjadi lebih terarah. Apakah harus berupa tabel? Tidaaak!... Berupa deskripsi juga ga papa. Yang penting mencatat dan memudahkan Anda dalam merekam proses belajar Ananda.

Yang perlu dihindari adalah “Tidak memiliki satupun catatan” tentang perjalanan belajar sang buah hati. Karena kita akan sangat kesulitan mengukur perkembangan Ananda dengan akurat.

Jikalau tiba-tiba ada masalah, kita juga sulit mengidentifikasi sebab utamanya, selain hanya mengira-ngira dan mencari-cari kesalahan dimana-mana. “Lho .... sudah 2 tahun pakai ABD/ implan kok anakku baru 2 auditory memory? Kok kosakatanya cuma 300? Mau SD kok masih susah diajak komunikasi?”... 😱🥶🤯😥🤔 dan lha lho lha lho lainnya... hehehe 😁

So, starting today. Kita juga kok yang merasakan manfaatnya. Tujuan lebih terarah, pembelajaran lebih menyeluruh, capaian lebih konkret, masalah bisa terprediksi lebih awal sehingga solusi juga bisa dicari lebih cepat. 😇😉👌

Salam Sayang..💝💝💝
Yayasan Aurica 🥰