Bendul Merisi Utara VIII No. 8
Surabaya - Jawa Timur

Ditulis oleh Elly Yayasan Aurica

Rasanya senang sekali karena berkesempatan untuk mendapatkan ilmu dan berdiskusi dengan pakar AVT Internasional, Cheryl L.Dickson, M.Ed., LSLS Cert. AVT

Pembahasannya banyaaaaak.. Minggu ini, salah satu pembahasannya adalah mengenai Usia Mendengar.

Usia Mendengar sangat besar pengaruhnya dalam menentukan target dan penanganan anak di tiap bulannya.

Usia Kronologis anak tidak bisa dipaksakan menjadi satu-satunya pijakan dalam membuat target dan penanganan. Justru Usia Mendengar lah yang harusnya dicermati supaya target dan penanganan sesuai dengan kondisi MASING-MASING anak.

Usia Mendengar yang dimaksud adalah dihitung saat anak mendapat manfaat yang signifikan dari alatnya DAN mendapatkan habilitasi yang tepat secara konsisten. 

Dengan kata lain,

  • Alat tersebut sesuai dengan kebutuhan anak dan mampu meng-cover kebutuhan anak
  • Alat tersebut mampu optimal membantu anak dalam mengakses bunyi atau suara sebagai bekalnya mengenal bahasa
  • Alat itu dipakai sepanjang hari (waking hours)
  • Anak menjalani habilitasi secara tepat dan konsisten 

Mari kita hitung usia mendengar anak kita kembali. Lalu lakukan evaluasi, apakah target dan penanganannya sesuai usia mendengarnya, lebih lambat, lebih cepat atau mungkin overload?

 

 

Kita telah saksikan anak-anak dengan gangguan pendengaran yang memiliki kemajuan setelah implan koklea,walaupun hanya di salah satu sisi telinga. Dia memiliki kemampuan dengar yang baik,kosakata yang banyak,kemampuan kognisi dan komunikasi yang baik pula.

Sayangnya,ada sebagian anak yang implan koklea pada kedua telinganya selama 1-2 tahun namun untuk mendengar dengan jelas saja sulit,kosakatanya masih sangat minim,pemahamannya terhadap benda-benda disekitarnya juga masih minim,apalagi untuk berkomunikasi,lebih sulit lagi ia melakukannya. Padahal ia tidak memiliki kendala fisik lain selain gangguan pendengaran.

Apa yang membedakan keduanya? Dari pengamatan yang ada,habilitasi keluarga yang membedakan hasil keduanya.

Pada artikel “The Power of Hearing” yang telah kami tampilkan, implan koklea tidak menjamin anak bisa mendengar seutuhnya apabila tanpa stimulasi terus menerus oleh orang tua/ahli dalam habilitasi dengarnya.

Kita yang sudah dewasa bisa flashback,bila masa kecil kita sangat jarang distimulasi dengan diajak komunikasi baik keluarga inti,keluarga besar atau lingkungan sekitar,akankah perbendaharaan kata,pemahaman benda, dan kemampuan bicara kita bagus?

Beruntungnya kita sebagai orang tua yang memiliki pendengaran normal,akses suara sangat banyak,tidak hanya dari keluarga. Sehingga kita mendapat benefit dari itu untuk mendengar secara tidak sengaja mengenai hal-hal di sekitar kita. Seperti yang juga telah disinggung dalam “The Power of Hearing”,penelitian lapangan dibidang psikologi perkembangan menyebutkan bahwa 90% anak-anak usia dini,belajar secara insidentil tentang bahasa lisan dan juga tentang dunia. (Flexer,1999)

Fenomena-fenomena yang kami angkat memang berbeda,satu sisi dengan gangguan pendengaran,sisi lain pendengaran normal. Namun universalnya adalah,telinga sebagai alat dengar mutlak butuh input suara untuk dikirim ke otak dan diartikan.

Anak dengan gangguan pendengaran memiliki keterbatasan jarak pendengaran. Untuk itu,mereka sangat-sangat membutuhkan pendampingan kita sebagai orang tua untuk memasukkan suara yang bermakna (meaningful sound) kepadanya. Kitalah orang tua,yang paling dekat dan bertanggung jawab atas kehidupan mereka, kini dan nanti. Hingga mereka benar-benar diharuskan untuk hidup sendiri dan survive setelah kita meninggal. 

Jika orang tua mampu berbicara 1440-1500 kata/jam,maka anak dengan pendengaran normal mampu mengekspresikan rata-rata 400 kata/jam. Pada anak dengan gangguan pendengaran,orang tua butuh memperdengarkan dan mengajarkan kata sebanyak 2-3x lipatnya. (Todd R. Risley dalam Kendrick). 

Beda proses,beda pula hasilnya. Habilitasi dari anggota keluarga sangat-sangat berpengaruh signifikan untuk meningkatnya perkembangan anak.

Bila terapis mampu menunjang perkembangan kemampuan dengar dan bicara anak dalam kurun terapi (belajar di meja) 1 minggu 1-2x dan 1 jam pada masing-masing pertemuan,maka hasilnya akan lebih baik bila anda tambahkan jam terapi tersebut di rumah dengan desain kegiatan sehari-hari. Kuncinya adalah “sering diajak ngobrol” dalam kegiatan sehari-hari yang dia,kita atau orang lain lakukan. Karena anak-anak pada dasarnya membutuhkan input suara/bunyi dari kita dan lingkungan sekitarnya untuk mendapatkan berbagai macam pemahaman. Manfaatnya,anak tidak hanya memahami konsep tapi juga mampu menerapkan konsep diaktivitasnya sehari-hari.

Anak anda susah untuk diajak duduk diam di meja untuk terapi? Tidak masalah. Dimanapun tempatnya,selalu ada media untuk mengembangkan potensi dengarnya. Ketika ia haus ingin minum, lapar ingin makan, gerah butuh kipas/AC, ngantuk ingin tidur,dll. Ketika perjalanan dan berada di mobil,kereta,kapal atau pesawat. Ketika ke mall,kebun binatang,toko buku,taman bermain,dls. Banyak hal yang bisa kita amati dan jadikan sarana perbincangan dengan anak untuk selalu menstimulasi dengarnya,membiasakannya agar familiar dengan suara dan benda-benda di sekitarnya,melatih ia bicara,memahamkan berbagai macam konsep seperti kata kerja,kata sifat,posisi,warna,bentuk,dan berbagai tanya jawab dengan beragam variasinya.

 

Oleh Elly Yayasan Aurica

Hai Ayah Bunda... Bagaimana kabar hari ini?
Pasti Ayah Bunda pernah muda kan? Atau bahkan ada yang masih muda hingga hari ini.. hehehe

Pernahkah Ayah Bunda menulis di dalam buku diary? Hmm... udah ga zamannya kali yaaa.. Kan sekarang udah zaman gadget.. hehehe

Nah, bagi Anda yang mendampingi Ananda dengan gangguan pendengaran, kehadiran buku catatan akan sangat membantu. Diary tersebut berisi curahan hati yang lengkap dengan perjalanan belajar mendengar bagi Ananda tercinta dan bisa menjadi acuan sehingga arah belajar Ananda lebih jelas.

Dalam diary tersebut kiranya Ayah Bunda bisa mengisi dalam bentuk deskripsi atau boleh juga dalam bentuk tabel. Disana tertera tujuan pembelajaran beserta materi dan metode pembelajaran yang sehari-hari Ayah Bunda terapkan kepada Ananda.

Tiap-tiap pembelajaran disertai pula dengan keterangan waktu seperti tanggal dan hari maupun keterangan atas respon Ananda terhadap materi pembelajaran tersebut. Kalau dapat PR dari terapis, bisa dicantumkan juga? Bisa banget...bahkan harus. Supaya tetap sejalan.

Jangan lupa pula menuliskan Usia Kronologis, Usia memakai alat, Usia saat menjalani habilitasi intensif maupun Usia mendengar yang akurat atau keterangan lain yang Ayah Bunda butuhkan, misalnya saja adanya gangguan penyerta lain. Sebagai tolok ukur dalam menilai sejauh mana perkembangan Ananda sejak ia memulai belajarnya pertama kali dan membandingkan “gap” atau kesenjangannya dengan usia kronologis.

Jadiiiiiiiiii.....
Bagi Ayah Bunda yang Anandanya baru belajar mendengar. Yuuuk, kita awali dengan menuliskan “Diary” untuk Ananda... Diary itu akan menorehkan sejarah panjang bagi Ananda yang di masa depan akan menjadi kenangan manis. Betapa perjuangannya dalam mencapai titik puncaknya sangat luar biasa. Dalam diary itu tercermin pula betapa Ayah Bunda sangat keras dalam berjuang mendampingi mereka.

Sudah terlanjur berjalan tapi belum menulis buku diary? Tidak papa... tidak ada kata terlambat untuk memulai menjadi lebih terarah. Apakah harus berupa tabel? Tidaaak!... Berupa deskripsi juga ga papa. Yang penting mencatat dan memudahkan Anda dalam merekam proses belajar Ananda.

Yang perlu dihindari adalah “Tidak memiliki satupun catatan” tentang perjalanan belajar sang buah hati. Karena kita akan sangat kesulitan mengukur perkembangan Ananda dengan akurat.

Jikalau tiba-tiba ada masalah, kita juga sulit mengidentifikasi sebab utamanya, selain hanya mengira-ngira dan mencari-cari kesalahan dimana-mana. “Lho .... sudah 2 tahun pakai ABD/ implan kok anakku baru 2 auditory memory? Kok kosakatanya cuma 300? Mau SD kok masih susah diajak komunikasi?”... 😱🥶🤯😥🤔 dan lha lho lha lho lainnya... hehehe 😁

So, starting today. Kita juga kok yang merasakan manfaatnya. Tujuan lebih terarah, pembelajaran lebih menyeluruh, capaian lebih konkret, masalah bisa terprediksi lebih awal sehingga solusi juga bisa dicari lebih cepat. 😇😉👌

Salam Sayang..💝💝💝
Yayasan Aurica 🥰

 

“Minimal 1500-2000 kata per jam? Saya harus ngomong apa aja itu?”

“Kenapa sih banyak banget yang harus diomongkan?”

“Itu setiap hari ngomong terus?”

Penelitian yang pernah beberapa kali kami sampaikan menyebutkan bahwa “Jika orang tua mampu berbicara 1440-1500 kata/jam, maka anak dengan pendengaran normal mampu mengekspresikan rata-rata 400 kata/jam. Pada anak dengan gangguan pendengaran,orang tua butuh memperdengarkan dan mengajarkan kata sebanyak 2-3x lipatnya. (Todd R. Risley dalam Kendrick).” 

Beberapa kali kami menemui banyak sekali orang tua yang menginginkan anaknya untuk segera bicara. Pertanyaan yang sangat umum kami jumpai adalah “Kapan anakku bisa bicara?”.

Sama-sama kita ketahui, belajar mendengar membutuhkan proses yang panjang. Kita perlu banyak sekali melatih mereka mendengar dan berbahasa dalam rangka mengisi dengan beragam pemahaman. Sehingga walaupun mereka belum bisa berbicara, mereka diharapkan mampu berkomunikasi. Mereka paham dan berespon secara tepat saat diajak ngomong. 

Tengoklah sebentar mengenai hari-hari kita selama ini, sudahkah kita berbicara tentang banyak hal untuk mengisi pemahaman anak-anak. Karena, jika pemahaman mereka belum kita isi mengenai banyak hal, maka bagaimana mereka bisa berbicara tentang banyak hal? - diluar konteks anak-anak yang memiliki gangguan penyerta 

Misalnya nih...aktivitas makan untuk anak yang baru belajar mendengar dan berbahasa.....

“Alana... waktunya makan. Mama bawa makanan untuk Alana. Kita makan yuk.. Hmm... sedap sekali makanannya. Pasti rasanya enak. Kita makan yaa... Nyamm... enak kan makanannya. Ayo, dikunyah dulu ya makannya.. Kunyah-kunyah.. dikunyah makanannya..Nyam nyam nyam... dikunyah makanannya. Enak kan.. oh! Sudah ditelan. Makanannya sudah ditelan? Enak yaa.. Mau lagi.. Mama suapin lagi yaa.. Alana makan... Makanannya masuk ke dalam mulut Alana. Makan... Nyammm”

Misalnya lagi...aktivitas melipat baju untuk anak yang mulai mengembangkan bahasa...

“Bayu... Yuk, ikut Ibu ambil baju di jemuran. Bayu bawa baju bayu, Ibu bawa baju ibu ya. Kita taruh di atas tempat tidur ibu dulu ya. Nah, sekarang yuk kita lipat. Tolong ambilkan baju ibu yang merah panjang, Nak. Bayu bisa lipat? Sini ibu tunjukkan caranya, pertama kita rapikan dulu hingga memanjang. Lalu kita pegang sisi kanannya kemudian kita lipat ke dalam seperti ini. Sekarang Bayu lihat, ibu pegang lengan bajunya kemudian ibu lipat ke arah luar seperti ini hingga posisinya lurus dengan lipatan sebelumnya. Cara yang sama untuk sebelah kiri. Bayu bisa? Mau coba? ...Nah, sekarang tahap akhir. Kita lipat bagian bawah baju ke arah atas 2 kali hingga ukurannya lebih kecil seperti ini. Selesai. Sekarang Bayu lipat baju Bayu sendiri ya..” 

Begitu banyak bahasa yang bisa kita informasikan kepada Anak.. atau istilahnya “Auditory Bombardment”. Anak dibombardir dengan kata-kata sebanyak-banyaknya melalui mendengar. Tentunya sesuai dengan tahapan mendengar dan berbahasa anak. Semakin pemula, maka teknik dan bahasanya semakin sederhana. Semakin ahli, maka teknik dan bahasa yang diberikan juga semakin kaya dan kompleks.

Teknik dan bahasa tidak bisa disamakan pada masing-masing anak. Yang mutlak sama hanya 1, yakni bicara sebanyak-banyaknya pada setiap kesempatan dan diulang-ulang.


Goal yang ingin dicapai adalah pemahaman anak yang semakin lama semakin banyak. Pemahaman terhadap apapun yang ada di sekelilingnya. Sehingga ia mampu berkomunikasi verbal dengan kita, suatu saat nanti, seiring bertambahnya pemahaman yang ia miliki.

“Apa harus sebanyak itu ngomongnya?”

“Apa harus sesering itu ngomongnya?”

Tergantung... Ayah Bunda ingin anaknya memiliki pemahaman yang banyak atau tidak? Bicara banyak atau sedikit setiap hari adalah hak preogratif Ayah Bunda untuk memilih. Namun, hak anak adalah mendapatkan pengetahuan dan pemahaman sebanyak yang ia butuhkan untuk bisa hidup dan melebur dalam masyarakat yang lebih luas di masa depan. Bukan semata-mata masa depan Ayah Bunda, tapi masa depan Anak-anak kita.


Rumah... adalah sekolah pertama bagi Anak. Jadi, sudah seyogyanya orang-orang di rumah menjadi tempat anak belajar bahasa untuk pertama kalinya dan sebanyak-banyaknya.

“Sampai kapan harus ngomong sebanyak itu?”

Sampai Ayah Bunda merasa sudah memberikan semua pengetahuan yang dibutuhkan Anak, yang itu tidak ia dapatkan darimanapun atau siapapun.

Kita sedang bertarung dengan waktu. Waktu yang semakin lama menjadikan usia anak kita bertambah. Waktu itu pula yang tidak mungkin kembali. Sehingga sebelum kita benar-benar kehilangan banyak waktu, maka mari bersama, kita optimalkan apa yang seharusnya menjadi hak anak-anak kita. Berpengetahuan.

 

Materi & Teknik Pembelajaran AVT yang Kasuistis & Terkurikulum

Hai ayah bunda…
Masih ingat kan….aspek-aspek yang menjadi target AVT?
Yup..! Meliputi :


  1. a) Kemampuan mendengar
    b) Kemampuan berbahasa
    c) Kemampuan bicara
    d) Kemampuan kognitif
  2. e) Kemampuan komunikasi
  3. f) Kemampuan sosial emosional
    g) Kemampuan motorik
    h) Kemampuan literasi

Jadi, AVT itu tidak hanya melatih dengar saja lho yaa…
Keseluruhan aspek diatas akan selalu dikembangkan kepada setiap anak.
Dan…satu lagi yang perlu diingat dan ditekankan. Setiap aspek terdiri dari berbagai macam materi yang sudah terkurikulum. Selain itu, terdapat teknik pembelajaran yang sangat disesuaikan dengan kondisi anak. Tidak bisa disama-ratakan.

 

Apa sih yang dijadikan pijakan penyesuaian? Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya, yakni :
1) Teknologi pendengaran baik itu Alat Bantu Dengar atau Implan Koklea.

  1. Apakah sudah sesuai kebutuhan anak dan dipakai sepanjang hari?
  2. Apakah sudah fitting & mapping secara berkesinambungan?
  3. Apakah sudah fft berkala ?

 

2) Habilitasi yang berpusat pada keluarga. Yuk dicermati :
❄️ Level gangguan pendengaran & sisa pendengaran anak
❄️ Usia anak saat didiagnosa mengalami gangguan pendengaran
❄️ Usia anak saat memakai ABD/Implan Koklea
❄️ Usia anak ketika habilitasi (AVT) intensif
❄️ Kecerdasan anak
❄️ Konsistensi habilitasi yang dilakukan oleh keluarga di rumah
❄️ Pengetahuan dan kondisi emosi orang tua dalam menghadapi anak di rumah
❄️ Gaya belajar anak
❄️ Adanya gangguan penyerta lain (multiple issue) dan kesehatan anak

 

3) Kurikulum AVT yang berfokus pada memaksimalkan kemampuan dengar anak (sebagai jalan mengembangkan kemampuan di aspek lain)

 

Setiap anak memiliki kondisi yang sangat kasuistis, sangat berbeda satu sama lain. Bila anak memiliki gangguan penyerta lain, materi dan teknik pembelajaran yang dipakai pun akan sangat menyesuaikan kondisi tersebut.

Orang tua boleh untuk melihat perkembangan anak lain sebagai motivasi dalam memantau perkembangan anak. Orang tua juga boleh untuk share mengenai materi dan teknik pembelajaran yang dipakai oleh anak lain sebagai tambahan wawasan. Namun yang perlu menjadi CATATAN, setiap materi dan teknik pembelajaran yang diterapkan kepada anak harus sinkron dengan yang diterapkan oleh terapis agar menyeluruh dan sesuai dengan kondisi anak yang berbeda-beda. Bukan berpijak pada materi dan teknik yang diterapkan kepada anak lain. Ingat... Tidak bisa disama-ratakan.

So, ayah bunda… jangan khawatir apabila anak anda belum diajari materi seperti yang sudah diajarkan kepada anak lain. Karena kondisinya pastilah berbeda, sehingga treatment yang dibutuhkan pun berbeda. Untuk itulah, begitu pentingnya komunikasi antara orang tua dan terapis. Agar perkembangan anak selalu terpantau dan terapi anak tetap on the track.

Yuk, kita menjadi orang tua yang selalu realistis dan optimis terhadap perkembangan anak. Realistis dalam mencanangkan target kepada anak. Agar anak tidak terbebani dengan target belajar yang melampaui waktu dan kapasitasnya. Optimis terhadap kemampuan anak. Tidak pesimis atau cemas berlebihan bahwa anak kita tidak mampu, melainkan tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki anak.