Bendul Merisi Utara VIII No. 8
Surabaya - Jawa Timur

Hits: 157

Yayasan Aurica didirikan tahun 2004. Semula berupa perkumpulan orang tua yang anaknya mengalami gangguan pendengaran yang dibentuk tahun 1999. Tujuannya adalah melakukan kegiatan parents support group dan sosialisasi penanganan gangguan pendengaran melalui metode Auditory Verbal Therapy (AVT). Kegiatan parents support group dilakukan di RSUD dr Soetomo & RS HCOS Surabaya. Sejalan dengan semakin berkembangnya kegiatan, akhirnya dilegalkan dalam bentuk yayasan pada tahun 2004 dengan nama yayasan Aurica. Kegiatan utamanya adalah melakukan habilitasi gangguan pendengaran dengan metode AVT.

Seluruh anak-anak di Yayasan Aurica menggunakan alat bantu dengar, baik hearing aid atau cochlear implant dengan tingkat gangguan pendengaran sedang, hingga sangat berat dan dihabilitasi untuk memanfaatkan sisa pendengarannya, sehingga dapat berbicara dan berkomunikasi seperti anak normal pendengaran. Mulai tahun 2004 hingga tahun 2019, yayasan Aurica telah menghabilitasi lebih dari 280 anak tuna rungu dan telah menghantarkan anak didik sebesar 60% untuk mampu bersekolah di sekolah umum dan hanya 7,14% yang bersekolah di SLB, sementara sisanya belum memasuki usia sekolah.

Untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan memenuhi tuntutan untuk menyiapkan anak-anak Aurica agar siap bersekolah di sekolah umum, maka sejak tahun 2010, yayasan Aurica telah membentuk PPT (Pos Paud Terpadu) Aurica dan telah memiliki 25 siswa yang terdiri atas anak gangguan pendengaran dan anak normal. Tahun 2012, PPT Aurica yang dulunya berada dibawah PKK Kota, ditingkatkan statusnya menjadi Kelompok Bermain Aurica dengan nomor ijin Pendirian No. 421.1/13324/435.6.4/2012 Dan di tahun 2014 Taman Kanak-kanak Aurica dengan ijin Pendirian No 421.1/8661/436.6.4/2014, dimana keduanya dikembangkan dalam Program Pendidikan Inklusif, semula hanya menerima anak normal dan anak gangguan pendengaran saja.

Seiring perkambangan dan bertambahnya kemampuan SDM tenaga Pengajar KB dan TK Aurica, tidak hanya menangani anak regular dan anak gangguan pendengaran saja, namun juga mulai melayani anak anak gangguan pendengaran yang mengalami kekhusus ganda, ada yang mengalami Autisme, dan ada juga yang mengalami gangguan perkembangan, yang biasa kita kenal dengan istilah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), serta ada juga siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu disekitar sekolah.