Bendul Merisi Utara VIII No. 8
Surabaya - Jawa Timur

Diterjemahkan dari penjelasan Dr. Jane Madell, Joan Hewitt, Au.D., dan Sylvia Rotfleich pada kursus yang diikuti Yayasan Aurica

Ditulis kembali oleh Elly Yayasan Aurica

Kita tidak dapat berasumsi bahwa seorang anak telah mendapatkan akses pendengaran yang cukup karena dia telah memakai teknologi pendengaran.

Tujuan teknologi adalah untuk menyediakan akses ke suara percakapan. Untuk melakukannya, seorang anak dengan gangguan pendengaran perlu memahami pembicaraan dengan jelas di seluruh range frekuensi
di setiap telinga. Untuk memastikan bahwa seorang anak cukup mendengar dengan baik, pengujian harus komprehensif. 

“Speech Perception” adalah tujuan teknologi. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Yang harus dipertimbangkan diantaranya :

  • Apakah anak memiliki paparan pendengaran yang cukup
    untuk mengembangkan otak bagian pendengaran mereka ?
  • Bagi anak yang memakai 2 alat di kedua telinga, apakah anak mendengar cukup baik di setiap telinga secara terpisah dan di kedua telinga saat bersama?
  • Apakah anak itu memakai teknologinya sepanjang ia terjaga/ sepanjang hari ?
    (Jika seorang anak memakai teknologi hanya empat jam per hari, akan butuh waktu enam tahun baginya untuk mendengar, yang bisa dicapai seorang anak normal dalam satu tahun.)
  • Sinyal melalui teknologi harus jelas. Jika sinyal terdistorsi atau teredam, itu tidak akan cukup untuk belajar mendengarkan.
  • Selain memiliki teknologi yang sesuai, anak perlu dikembangkan kekayaan bahasanya dan distimulasi dengan bahasa yang kompleks.
  • Terapi berbasis pendengaran turut mampu membantu pengembangan keterampilan keluarga dalam mengembangkan bahasa dan kemampuan literasi pada anak.
  • Memilih tes “speech perception” yang tepat sangat penting.
    Tes harus sesuai usia dan bahasa serta harus cukup kompleks untuk membantu dalam menentukan apakah anak mampu mendengar dengan baik saat ia kelak di Sekolah Umum sesuai tingkatnya.

 

PERAN ORANGTUA DALAM HABILITASI DAN PEMILIHAN TEKHNOLOGI PENDENGARAN YANG TEPAT BAGI ANAK. 

Ditulis oleh Bapak Sri Gutomo Kepala Yayasan Aurica.

 

Dengan teknologi yang ada pada saat ini, anak dengan gangguan pendengaran dimungkinkan untuk mengakses suara-suara dan berbicara. Dengan alat bantu dengar dan implan koklea bayi dan anak dapat mendengar suara yang dahulu hal tersebut belum pernah terjadi. Akan tetapi hal tersebut perlu diketahui bahwa dengan menggunakan alat bantu dengar atau implan koklea bukan berarti suara secara otomatis dapat diterima dan dipahami begitu saja. Anak perlu belajar untuk terbiasa mendengar dengan alat yang digunakan. 

Perlu adanya kerjasama dari berbagai pihak agar proses yang dijalankan anak dalam habilitasinya dapat berjalan dengan baik. Orang tua atau pendamping yang selalu bersama anak adalah kunci sukses dari proses yang panjang ini. Orang tua lah yang berperan untuk selalu membiasakan anak berkomunikasi sepanjang hari. Dan sebagai kunci sukses orang tua perlu memahami setiap tahapan mendengar yang akan dilalui anaknya, tahapan tersebut mencakup aspek mendengar, kognisi, bahasa, berbicara dan kemampuan komunikasinya. Setiap komunikasi yang berjalan harus penuh makna sehingga anak akan lebih mudah memhami. 

Kemajuan teknologi semakin berkembang dan pada saat ini telah berkembang teknologi yang dapat mendeteksi gangguan pendengaran pada anak yang baru lahir. Dalam artian orang tua dapat mengetahui apakah bayi mereka mengalami gangguan pendengaran atau tidak diawal waktu. Penelitian yang dilakukan di Italy, pada bulan mei 2002 mengetengahkan hasil yang cukup signifikan dari kerja alat deteksi dini gangguan pendengaran pada bayi yang baru lahir. Bila lebih awal diketahui maka interfensi yang diberikan akan lebih awal juga, sehingga hasil yang didapat anak dapat menyamai perkembangan anak sebayanya. 

Pada dasarnya orang tua bila anaknya telah diketahui mengalami gangguan pendengarana maka mereka perlu untuk menetapkan tujuan yang jelas akan masa depan anaknya. Program habilitasi yang berfokus pada keluarga akan memberikan banyak pengetahuan dan kemampuan bagi orang tua atau anggota keluarga lainnya untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi anak sebaik mungkin. Mereka juga akan paham caranya berkomunikasi dan menggunakan bahasa dalam aktifitas bermain atau keseharian anak. Orang tua juga perlu tahu bagaimana cara kerja alat bantu dengar atau implant koklea yang digunakan anaknya, sehingga dapat mencapai hasil yang optimal.