Late Intervention

Pengetahuan

Anak dengan terlambat intervensi 

Beberapa kali kami memiliki murid dengan kasus terlambat intervensi. Ada yang baru datang dan baru memakai alat saat usianya 6 tahun, 7 tahun, 9 tahun atau lebih. Ada yang tanpa gangguan penyerta, ada yang dengan gangguan penyerta. Anak gangguan pendengaran yang terlambat intervensi, walaupun tidak memiliki gangguan penyerta, tetap memiliki issue yang harus sangat diperhatikan, yakni kekakuan organ bicara karena sudah sangat lama tidak digunakan dengan optimal serta kondisi otak yang plastisitasnya jauh-jauh berbeda dibanding dengan anak yang usianya masih 0-3,5 tahun. Hal ini sangat berpengaruh pada kemampuan mereka dalam mengingat, memahami atau mengungkapkan informasi yang mereka terima dalam bentuk bahasa verbal.

Pengalaman yang ingin kami bagi ialah mengenai bagaimana intensifnya habilitasi yang dilakukan oleh orang tua serta berbagai teknik yang menyesuaikan kondisi anak. Dari semua pengalaman yang kami jalani, semua sama! Yakni, habilitasi dilakukan sangat-sangat intensif. Jauh melebihi yang lain. Pengulangan juga dilakukan jauh-jauh lebih banyak. Dengan jam belajar yang jauh lebih sering. Targetnya ialah mengejar kesenjangan antara usia mendengar, usia bahasa dengan usia kronologis yang seharusnya sudah siap sekolah. Target pemahaman kosakata dalam 1 bulan jauh lebih banyak dan ini mempengaruhi pada target harian. Ada murid yang dalam waktu 1 bulan bisa mencapai 100-200 kosakata baru dengan intensitas habilitasi yang begitu intensifnya dilakukan. 

Anak tidak lagi melulu diberikan permainan, karena “sudah bukan usianya”. Jika kita masih menggunakan mainan secara dominan, akan berpengaruh pada mental age mereka yang juga tak berkembang dengan baik. Peraga yang dipergunakan harus menyesuaikan usia kronologis mereka. Anak juga harus semakin intensif untuk diajarkan mengenai disipilin terhadap aturan main. Hal ini sebagai jalan untuk membiasakan mereka bersiap sekolah yang penuh dengan tata aturan yang harus dipatuhi serta norma sosial tak tertulis yang juga harus mereka jalani untuk bisa hidup bersosial dengan baik. 

Terapi di tempat kami bisa dilakukan dengan frekuensi yang lebih sering. Hal ini untuk membangun pola belajar yang baik. Disamping itu, saat di rumahpun jam belajar dilakukan jauh lebih sering baik saat belajar di meja maupun belajar melalui aktivitas sehari-hari. Anak-anak tidak hanya belajar mendengar dan menambah kosakata, melainkan juga belajar pada aspek logika serta belajar membaca, memahami bacaan, hingga menulis (menceritakan) secara sederhana mengenai apapun yang telah mereka baca dengan bahasa mereka sendiri. 

Walau usia mendengar dan berbahasanya masih belia, namun anak terus distimulasi untuk bicara. Supaya ia mulai mampu mengungkapkan apa yang diinginkannya, dibutuhkannya, bahkan berbicara mengenai pendapatnya secara sederhana dengan susunan 2-3 kata dalam 1 kalimat. Seiring waktu, anak yang dilatih secara intensif mampu berbicara lebih banyak kata dalam 1 kalimat walaupun dengan terbata-bata dan dengan artikulasi yang tidak sepenuhnya sempurna. 

Anak yang terlambat intervensi bukan tidak memiliki kesempatan untuk berbahasa verbal, namun orang tua harus siap waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengintensifkan habilitasi mendengar di rumah sepanjang hari. Orang tua harus cakap dalam menjalankan program habilitasi itu dengan panduan terapis agar target bisa dicapai. Orang tua harus realistis dengan harapan yang dimiliki, karena pasti ada hal-hal yang tidak sempurna namun masih memuaskan sesuai kapasitas anak secara personal.  Jadi, mari pahami kapasitas kemampuan anak, supaya kita bisa mendudukkan target secara realistis serta teknik yang sesuai kondisinya. 

Tags :
Metode
Share This :

Have Any Question?

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod

Categories