Bendul Merisi Utara VIII No. 8
Surabaya - Jawa Timur

PERAN KELUARGA MENDUKUNG OPTIMALISASI PERTUMBUHAN ANANDA TERCINTA

Oleh:

YOKHANAN NUGROHO

 

Hallo Ayah Bunda lama tidak nulis di Fb Aurica, apakabar pasti semua baik baik saja dan bahagia selalu. Sesuai dengan judul dalam artikel saya kali ini, saya ingin mengajak bersama melihat kembali apakah kita sudah cukup berperan aktif dan baik dalam optimalisasi pertumbuhan ananda tercinta kita? 

Nah berikut ada 6 indikator yang ingin saya ajak Ayah Bunda mengukur diri sudah seberapa optimal Ayah Bunda mendukung perkembangan Ananda.

 

  1. Keharmonisan Orangtua

Keharmonisan orang tua menempati posisi sebagai indikator pertama, mengapa? 

Karena anak anak kita adalah Kertas kosong, Hardisk/Flashdisk kosong ataupun kamera video yang siap merekam semua aktifitas orang tua, termasuk keharmonnisan orang tua. Mereka akan melihat, merekam dan menayang kan ulang pada perilaku mereka. 

Karena itu keharmonisan orang tua akan menjadi teladan yang baik pada ananda untuk bersikap, berperilaku dan bertutur kata pada orang lain. 

Apabila keluarga kurang harmonis Ayah Bunda sering berselisih paham, bahkan bertengkar didepan Ananda, bisa jadi mereka akan tumbuh menjadi pribadi kurang baik ananda bisa jadi pendiam dan mengurung diri, jarang di rumah, pemarah, bahkan sikap ananda bisa mengarah  menjadi destruktif, karena meniru sikap ketidakharmonisan orang tuanya. Bahkan mungkin disaat kita marah, mereka melihat kita berperilaku kasar atau mereka mendengar kata kata kasar, secara tidak langsung anak anak akan belajar juga berperilaku kasar dan berkata kata kasar pada orang lain.

Untuk anak anak yang sudah remaja atau dewasa mungkin tidak akan terlalu berpengaruh, tapi buat yang masih anak anak mereka belum bisa  menyaring, apa yang mereka lihat dan dengar. 

Pak Yo, namanya manusia pasti ada kalanya kita berselisih paham?

Ya benar, itu sangat mungkin terjadi.

Sekedar saran bila sedang berselisih paham kalau Ayah/Bunda sudah mulai naik, yang lain coba tahan, dan selesaikan tidak didepan anak anak. Sehingga didepan anak anak kita baik baik saja. In syaa Allah selama kita melandaskan diri dan rumah tangga kita pada Allah semata, semua akan baik baik saja. 

 

  1. Kesepakatan Program dan Teknik Mendidik Anak

Sebagai keluarga yang harmonis tentunya setiap apa yang dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama, termasuk program dan teknik mendidik seperti apa yang akan diterapkan pada ananda tercinta, agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan optimal sesuai dengan kemampuannya.

Setiap langkah yang akan diambil sebaiknya dibicarakan dengan baik dan matang. Segala sesuatu harus disepakati bersama untuk menyamakan visi dan misi, sehingga tidak akan menyalahkan salah satu pihak.

Misalnya ayah dan Bunda harus sepakat dan menjalankan kesepakatan bersama dalam memilih tempat belajar anak, memilih cara mendidik anak di rumah, penerapan kedisplinan, sopan santun, dan sebagainya. 

Hal ini sangat penting demi keberhasilan pendidikan anak. 

 

  1. Perhatian Orangtua terhadap Anak

Seiring dengan perkembangan jaman, anak anak kita sudah sangat familier dengan operasional gadget, laptop dan televisi, bahkan masih usia 2 atau 3 tahun mereka sudah mampu mengoperasionalkan sendiri, bahkan karena tidak ada rasa takut mecoba mereka lebih hebat dari Ayah Bundanya. Hal ini memang tidak mungkin dicegah dan kadang terkait dengan pembelajaran mereka disekolah, gadget sangat diperlukan untuk mengerjakan pembelajaran ananda. Karena itu  perhatian Ayah Bunda menjadi sangat penting dalam hal ini. 

Perhatian yang diberikan dalam segala hal terhadap anak-anak akan memberikan kontribusi positif, sekaligus kontrol yang baik bagi anak. Sebagai contoh ketika anak-anak tengah bermain gadget, atau menonton televisi, Ayah dan Bunda dapat memberikan perhatian dengan menemaninya dan memberikan tambahan informasi, serta arahan terhadap tampilan gadget maupun program televisi yang tengah dinikmati anak-anak. Tidak semua tampilan gadget atau program televisi mengandung hal positif, maka diperlukan arahan dan bimbingan orangtua agar anak tidak salah mengartikan apa yang mereka lihat.  

Selain hal di atas perhatian Ayah Bunda pada saat anak sedang mengalami kesulitan belajar, bersosialisasi atau bahkan kegagalan dalam meraih harapan, adalah hal yang sangat dibutuhkan oleh ananda. Berilah pandangan positif dari berbagai sisi, berilah contoh-contoh tokoh sukses yang juga pernah mengalami kegagalan, atau juga bisa dicontohkan tentang perjalanan hidup Ayah dan Bunda sendiri, ketika mengalami kegagalan, hingga sukses seperti saat ini. Dukungan dan motivasi yang diberikan akan membuat anak akan bersemangat kembali dan menyadari bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya, namun merupakan evaluasi diri untuk menjadi lebih baik dan meraih kesuksesan mendatang. 

 

  1. Komunikasi yang demokratis

Peran yang ke empat menempatkan komunikasi yang demokratis, dalam peran ini orang tua bukan sebagai pengambil keputusan, tapi menjadi pemberi saran dan alternatif solusi bagi anak. Mengepa hal ini penting? Sebab bila anak terbiasa mejalankan keputusan Ayah Bundanya, maka saat dewasa ananda tidak akan bisa survive, selalu bergantung pada orang lain saat menghadapi masalah. 

Hargai dan Berikan kesempatan anak untuk berargumen dan mengutarakan pendapatnya. Komunikasi yang terjalin saat itu akan membangun daya pikir dan kematangan mental anak. 

Dan agar anak selalu mau berkomunikasi dalam setiap masalah yang dihadapi, maka sangat penting dalam keseharian, Ayah Bunda harus mampu berperan sebagai orangtua, teman, maupun partner bagi ananda. Sebab dengan peran tersebut ananda akan selalu berani dan merasa nyaman mengungkapkan permasalahan yang dihadapinya, sehingga ananda bisa mengambil keputusan yang tepat. Selain itu dengan ananda selalu mau bercerita dengan kita sekecil apapun masalah dan seprivasi apapun masalahnya, maka kita akan bisa tahu dan memantau perkembangan ananda tercinta. 

 

  1. Apresiasi terhadap hasil belajar anak

Apapun hasil belajar ananda berilah penghargaan dan apresiasi yang positif. Tidak ada hal yang sempurna di dunia ini maka berilah pujian serta  komentar yang positif dan membangun agar anak lebih semangat belajar, berkarya dan tidak alergi terhadap kritikan. 

Baik disadari oleh Ayah Bunda maupun tidak, pada dasarnya anak selalu ingin menunjukkan hasil karya mereka kepada orangtuanya. Sekecil apapun hasil yang mereka lakukan, mereka ingin pengakuan dari Ayah Bunda. Diperlukan kejelian dan sikap bijak Ayah Bunda. saat anak-anak berusaha menunjukkan hasil karya mereka. 

Contoh: walaupun tampak berantakan cara membereskan mainan atau tempat tidur mereka, hargailah upaya yang telah mereka lakukan dan berikan komentar positif sambil mengajak anak-anak untuk lebih merapikannya. 

Kita bisa sampaikan pada ananda “Wah Hebat anak Bunda sudah pandai beres beres mainan dan menata tempat tidur, tapi bagaimana kalau kita  buat lebih rapi lagi ya, ayuk Bunda bantu.” 

Sebab hal kecil seperti ini akan meningkatkan rasa bangga dan kepercayaan diri mereka serta melatih untuk melakukan pekerjaan dengan lebih tepat. Dan juga tidak ada salahnya jika diberi reward sederhana dengan dibuatkan makanan atau minuman istimewa yang mereka sukai. 

Terutama masalah nilai, sebelum kita marah, karena nilai ulangan yang kurang baik, perlu kita lihat dulu apa permalasahan yang mereka hadapi, apakah mereka malas belajar, apakah mereka sudah berusaha tapi mereka tetap tidak bisa, atau ada hal lain. Dengan kita tahu permasalahnya kita akan bisa mengambil solusi terbaiknya. 

Saya ada cerita untuk menguatkan bahwa hasil belajar tidak selalu menjadi penentu masa depan ananda nantinya.

  1. Cerita pertama teman SMA A1 saya yang pandai, berasal dari keluarga cukup, sehingga selalu mendapat apa yang dibutuhkan, bahkan kuliah pun lulus dengan nilai baik, hanya saja karena kurang mampu survive, sampai sekarang dia bekerja dikantoran dengan penghasilan yang UMR saja.
  2. Cerita yang kedua teman SMP , semua guru pasti bilang anak bodoh, nakal, tidak bisa diarahkan, karena selalu saja membuat ulah disekolah. Sekolah hanya lulus SMK swasta yang tidak terkenal, jurusan teknik mesin. Karena dari keluarga kurang mampu, tidak bisa melanjutkan kuliah. Kehidupan yang keras membuat dia tertempa untuk survive, dan menjadi pekerja keras, yang kata guru nakal (alias banyak akal) membuat dia pindai ngakali bagaimana sepeda motor yang sudah sulit mencari spareprat, bisa kembali berfungsi baik. Dari mulut kemulut pelanggan yang puas, semakin banyak pelanggannya. Dan saat ini dia bisa membuka bengkel besar dengan penghasilan 500rb perhari.

 

  1. Menghadiri kegiatan anak di sekolah

Sepertinya sepele, kehadiran kita dalam setiap undangan kegiatan sekolah, ternyata memiliki peran yang sangat baik untuk membangun rasa percaya diri anak, rasa bangga anak akan Ayah Bunda. Karena dengan kehadiran kita, ananda akan merasa diperhatikan dan dihargai, meskipun itu hanya sekedar tepuk tangan dan senyuman tulus saat mereka selalsai tampil, itu akan sangat membahagiakan. Dan kehadiran Ayah Bunda juga akan membuat ananda merasa senang, karena Ayah Bundanya juga hadir seperti Ayah Bunda teman teman yang lain. 

Wah ternyata panjang juga ya artikelnya, tapi semoga manfaat buat Ayah Bunda, sehingga ananda akan tumbuh menjadi anak anak yang hebat dan survive tentunya disaat mereka dewasa nantinya. Ingat kita tidak selamanya bisa mendampingi mereka. Salam sukses, Salam Sabar, dan Salam bahagia selalu dengan keluarga.

Tips Untuk Orangtua Dalam Menumbuhkan Rasa Percaya Diri pada Anak 🤩

Oleh Andini 

 

Di tahun pertamanya, yang bisa dilakukan oleh orangtua adalah memberikan kehangatan kepada anak. Seperti memberikan pelukan, dekatkan diri pada anak anda dan memahami bagaimana emosi yang anak tunjukkan. Dengan begitu, anak akan mulai percaya terhadap orang tuanya.

Pada usia 1 hingga 3 tahun, biarkanlah anak untuk mengeksplorasi lingkungannya. Teruslah dukung anak Anda untuk terus berkarya dan melakukan hal-hal baru. Usahakan untuk tidak menggunakan kata “jangan” tanpa memberikan alasannya. Karena anak akan merasa tertutup apabila ia sering dilarang dalam melakukan suatu hal baru. Jika anak banyak dilarang, rasa keingintahuannya akan menurun. Selain itu ajarkan anak bertanggung jawab atas kesalahannya. 

Saat anak sudah diatas 3 tahun, sebagai orangtua selalu memberikan pujian di setiap tindakan baik yang dilakukannya. Selalu mendukung apapun kegiatan positif yang dilakukan anak. Serta bebaskan anak untuk memulai memilih keinginannya sendiri, agar anak akan mulai mandiri dan merasa bahwa ia sudah bisa mengatur dirinya sendiri.

 

 

Menggunakan pensil merupakan tantangan bagi anak-anak jaman sekarang

Oleh Elly Yayasan Aurica 

Karena efek dari penggunaan smartphone, tablet, dan teknologi lain yang berlebihan, maka anak-anak semakin harus berjuang untuk memegang pensil. Mereka juga kehilangan keterampilan lain yang juga penting. Menurut Sally Payne, kepala ahli terapi okupasi pediatrik di Heart of England Foundation, “Anak-anak jaman sekarang tidak datang ke sekolah dengan kekuatan tangan dan ketangkasan yang dimiliki oleh anak-anak 10 tahun yang lalu.” 

Kontrol yang baik terhadap otot-otot halus di jari-jari diperlukan untuk dapat memegang pensil dan anak-anak membutuhkan banyak kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dasar semacam ini. 

Satu masalahnya. Kebiasaan bermain itu sendiri telah berubah secara dramatis. Saat ini, lebih mudah bagi orang tua untuk menyediakan perangkat elektronik kepada anak-anak mereka, daripada mengajak mereka ke permainan yang lebih "fisik" seperti membangun blok, memindahkan mainan, atau aktivitas memotong dan menempel. Inilah sebabnya mengapa anak-anak kekurangan beberapa kapasitas mendasar yang mereka butuhkan dan semakin kurang mampu untuk memegang dan menggunakan pensil dengan benar. Padahal pengaruhnya cukup signifikan terhadap kemampuan-kemampuan yang lain.

"Meskipun ada banyak aspek positif dalam penggunaan teknologi, ada semakin banyak bukti tentang dampak gaya hidup yang lebih menetap dengan meningkatnya interaksi sosial virtual, karena anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan secara online dan sedikit waktu untuk berpartisipasi secara fisik dalam kegiatan yang aktif," kata Karin Bishop, seorang asisten direktur di Royal College of Occupational Therapist. 

Memang apa pentingnya memiliki kemampuan menulis dengan tangan bagi anak-anak terutama bagi masa depannya? 

 [[ Mengambil intisari dengan beberapa perubahan tanpa bermaksud mengubah substansi isi dari artikel The Guardian ]]

 

 

Pentingnya menulis dengan tangan di era digital bagi anak-anak

Oleh Elly Yayasan Aurica 

Jika disuruh memilih, apakah ingin mencatat dengan tangan atau komputer? Saat ini, Anda mungkin akan lebih memilih computer/tablet/laptop. Hal ini juga bisa jadi akan dilakukan oleh banyak siswa. Mereka mungkin lebih memilih untuk mencatat dengan computer atau laptop mereka. Apalagi di era digital, anak-anak sungguh lebih familiar dengan penggunaan gadget. Tidak terkecuali anak usia dini yang kini sudah mulai gandrung dengan gadget nya. 

Tetapi sesungguhnya, bahkan jika teknologi menawarkan banyak manfaat bagi para pengguna, benar adanya jika ini mungkin bukan sepenuhnya pilihan terbaik bagi anak jaman now. Mari Bapak Ibu cermati lagi. Dibalik beragam manfaat gadget/teknologi, ada tantangan yang bisa menjadi kelemahan bagi anak-anak kita, yang jika diteruskan menjadi habit (kebiasaan) justru akan mengancam perkembangan optimalnya sebagai anak-anak.

Dalam hal belajar, tulisan tangan jauh lebih berguna daripada kenyamanan keyboard. Menurut Bapak Ibu, apa keuntungan khusus menulis dengan pensil atau pena bagi anak-anak?

Pertama, menulis dengan tangan sangat membantu dalam pengembangan keterampilan motorik kecil dan koordinasi mata-tangan.

Kedua, dan bahkan yang lebih luar biasa, tulisan tangan meningkatkan kemampuan berpikir. Siswa yang mencatat pada perangkat digital memang akan menangkap banyak dan lebih cepat dari apa yang dikatakan dalam sebuah penyampaian, tetapi mereka akan cenderung tidak mengingat apa yang mereka dengar [apalagi pahami]. 

Siswa yang menulis catatan mereka dengan tangan cenderung lebih baik dalam mengingat apa yang diajarkan kepada mereka. Dan kemudian menjadi lebih memahaminya. Karena seringkali, siswa yang mencatat dengan tangan akan menuliskan poin-poin yang menjadi gagasan inti dari sebuah pemikiran/ penyampaian narasumber.

Karena mereka tahu bahwa menulis butuh waktu yang lebih lama, maka mereka akan mendengar, memperhatikan dan berpikir untuk memilah mana pokok pikiran yang penting untuk mereka catat. 

Bukan justru mencatat semua hal yang mereka dengar tanpa meresapi makna-nya [yang menjadi salah satu kelemahan jika anak-anak mencatat menggunakan komputer]

Ketiga, tulisan tangan yang panjang meningkatkan keterampilan pemrosesan bahasa seperti membaca dan menulis. Saat mengetik teks tentu lebih mudah daripada menulisnya dengan tangan. Sedangkan tulisan tangan memang lebih lambat, tapi secara positif akan meningkatkan kemampuan untuk memproses bahasa, memungkinkan siswa untuk berpikir lebih dalam tentang kosakata dan ejaan, memilah kata yang paling sesuai dalam struktur kalimat dan bagaimana menyusun kalimat dari seluruh rangkaian teks. Kemampuan ini menjadi dasar dari kemampuan membentuk sebuah konsep pemikiran ketika mereka sudah dewasa. Barulah ketika mereka sudah betul-betul mapan dengan kemampuan dasarnya, mereka bisa mempergunakan teknologi yang memudahkan mereka untuk memproduksi tulisan dengan lebih cepat, yakni komputer.

[Mengambil intisari dengan beberapa perubahan tanpa bermaksud mengubah substansi isi dari artikel The tech edvocate]

Mengapa kita harus memahamkan kepada anak untuk tidak merebut ?

Mengapa kita harus mengajarkan anak untuk berkata “Mau” kala menginginkan sesuatu ?

Manfaat yang bisa kita peroleh antara lain :

  1. Anak akan memahami aturan. Bahwa segala sesuatu ada yang memiliki. Jika itu bukan “punyamu”, maka kita harus meminta dengan baik, tanpa harus merebut.
  2. Anak belajar menghargai milik orang lain.
  3. Anak belajar menahan diri, ketika menginginkan sesuatu.
  4. Anak akan terstimulasi bicara. Mulai yang sederhana hingga kompleks.
  5. Anak akan terlatih kemampuan komunikasi dan interaksi sosialnya.
  6. Meminimalisir anak untuk bertingkah semaunya sendiri. Apalagi jika usianya sudah tidak kecil lagi. 

Ketika anak sudah menginginkan sesuatu dan memaksa harus saat itu diberikan, maka ia akan cenderung menghiraukan suara-suara disekitarnya. Mereka akan cenderung mengedepankan aspek emosionalnya sebagai anak kecil. Hal ini tidak baik bagi perkembangan mendengar, bicara, bahasa, komunikasi sekaligus kemampuan sosialnya. 

Di dalam AVT, sering ya kita jumpai para terapis mengajarkan anak untuk berkata “Mau” (sesuai usianya). Semakin anak memiliki kemampuan bahasa yang kompleks, maka anak juga akan dilatih untuk bicara panjang, seperti “Bunda, Siti mau pinjam bola warna merah satu”. 

Sering pula kita jumpai, ketika anak menginginkan sesuatu maka kita akan memberikan syarat untuknya. “Siti mau? Boleh. Tapi dengarkan dulu ya… Sampai 5x, maka Siti boleh pukul bola sebanyak 5x juga. Oke?”.. 

Dengan demikian, anak juga akan belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu pasti ada konsekwensi yang harus ia lakukan. Hal ini pasti akan sangat bermanfaat hingga mereka dewasa nanti.

Tidak jarang pula kita akan menolak permintaan anak. Bukan karena jahat tentunya. Tapi untuk mendidik mereka tentang kedisiplinan. Bahwa tidak semua yang mereka inginkan, bisa mereka dapatkan. Berlatih menahan diri jika diajarkan sejak dini dan dengan cara yang tepat sangat bermanfaat bukan? 

Mengapa terkadang kita perlu menolak permintaan anak ?

Kadangkala kita memiliki murid yang usianya sudah besar. Sangat banyak hal yang harus dikejar, sehingga sudah tidak fase-nya lagi baginya untuk bermain "semaunya” sendiri yang mana tujuan bermainnya tidak terkontrol.

Permainan yang diberikan terapis adalah untuk mencapai tujuan tertentu yang kadangkala tidak sesuai dengan keinginan anak, sehingga anak akan menuntut permainan yang lain. Permainan yang betul-betul ingin dimainkan tanpa mau memperhatikan terapis. Padahal pada konteks tertentu memang sudah tidak ada waktu lagi untuk bermain. Misalkan saja pada anak-anak yang baru belajar mendengar dan berbahasa pada usianya di atas 5 tahun, 6 tahun, 7 tahun dan seterusnya.

Masih ingat tulisan kami dalam Playing is Learning? Setiap permainan yang tersaji bertujuan untuk belajar.

Jadi, yukkk…. ajarkan anak tentang aturan main sejak dini.. mulai dari yang paling sederhana. 1 kata, berkata "mau…”