Bendul Merisi Utara VIII No. 8
Surabaya - Jawa Timur

Hits: 149

 

“Minimal 1500-2000 kata per jam? Saya harus ngomong apa aja itu?”

“Kenapa sih banyak banget yang harus diomongkan?”

“Itu setiap hari ngomong terus?” 

Penelitian yang pernah beberapa kali kami sampaikan menyebutkan bahwa “Jika orang tua mampu berbicara 1440-1500 kata/jam, maka anak dengan pendengaran normal mampu mengekspresikan rata-rata 400 kata/jam. Pada anak dengan gangguan pendengaran,orang tua butuh memperdengarkan dan mengajarkan kata sebanyak 2-3x lipatnya. (Todd R. Risley dalam Kendrick).” 

Beberapa kali kami menemui banyak sekali orang tua yang menginginkan anaknya untuk segera bicara. Pertanyaan yang sangat umum kami jumpai adalah “Kapan anakku bisa bicara?”.

Sama-sama kita ketahui, belajar mendengar membutuhkan proses yang panjang. Kita perlu banyak sekali melatih mereka mendengar dan berbahasa dalam rangka mengisi dengan beragam pemahaman. Sehingga walaupun mereka belum bisa berbicara, mereka diharapkan mampu berkomunikasi. Mereka paham dan berespon secara tepat saat diajak ngomong. 

Tengoklah sebentar mengenai hari-hari kita selama ini, sudahkah kita berbicara tentang banyak hal untuk mengisi pemahaman anak-anak. Karena, jika pemahaman mereka belum kita isi mengenai banyak hal, maka bagaimana mereka bisa berbicara tentang banyak hal? - diluar konteks anak-anak yang memiliki gangguan penyerta 

Misalnya nih...aktivitas makan untuk anak yang baru belajar mendengar dan berbahasa.....

“Alana... waktunya makan. Mama bawa makanan untuk Alana. Kita makan yuk.. Hmm... sedap sekali makanannya. Pasti rasanya enak. Kita makan yaa... Nyamm... enak kan makanannya. Ayo, dikunyah dulu ya makannya.. Kunyah-kunyah.. dikunyah makanannya..Nyam nyam nyam... dikunyah makanannya. Enak kan.. oh! Sudah ditelan. Makanannya sudah ditelan? Enak yaa.. Mau lagi.. Mama suapin lagi yaa.. Alana makan... Makanannya masuk ke dalam mulut Alana. Makan... Nyammm”

Misalnya lagi...aktivitas melipat baju untuk anak yang mulai mengembangkan bahasa...

“Bayu... Yuk, ikut Ibu ambil baju di jemuran. Bayu bawa baju bayu, Ibu bawa baju ibu ya. Kita taruh di atas tempat tidur ibu dulu ya. Nah, sekarang yuk kita lipat. Tolong ambilkan baju ibu yang merah panjang, Nak. Bayu bisa lipat? Sini ibu tunjukkan caranya, pertama kita rapikan dulu hingga memanjang. Lalu kita pegang sisi kanannya kemudian kita lipat ke dalam seperti ini. Sekarang Bayu lihat, ibu pegang lengan bajunya kemudian ibu lipat ke arah luar seperti ini hingga posisinya lurus dengan lipatan sebelumnya. Cara yang sama untuk sebelah kiri. Bayu bisa? Mau coba? ...Nah, sekarang tahap akhir. Kita lipat bagian bawah baju ke arah atas 2 kali hingga ukurannya lebih kecil seperti ini. Selesai. Sekarang Bayu lipat baju Bayu sendiri ya..” 

Begitu banyak bahasa yang bisa kita informasikan kepada Anak.. atau istilahnya “Auditory Bombardment”. Anak dibombardir dengan kata-kata sebanyak-banyaknya melalui mendengar. Tentunya sesuai dengan tahapan mendengar dan berbahasa anak. Semakin pemula, maka teknik dan bahasanya semakin sederhana. Semakin ahli, maka teknik dan bahasa yang diberikan juga semakin kaya dan kompleks.

Teknik dan bahasa tidak bisa disamakan pada masing-masing anak. Yang mutlak sama hanya 1, yakni bicara sebanyak-banyaknya pada setiap kesempatan dan diulang-ulang.


Goal yang ingin dicapai adalah pemahaman anak yang semakin lama semakin banyak. Pemahaman terhadap apapun yang ada di sekelilingnya. Sehingga ia mampu berkomunikasi verbal dengan kita, suatu saat nanti, seiring bertambahnya pemahaman yang ia miliki.

“Apa harus sebanyak itu ngomongnya?”

“Apa harus sesering itu ngomongnya?”

Tergantung... Ayah Bunda ingin anaknya memiliki pemahaman yang banyak atau tidak? Bicara banyak atau sedikit setiap hari adalah hak preogratif Ayah Bunda untuk memilih. Namun, hak anak adalah mendapatkan pengetahuan dan pemahaman sebanyak yang ia butuhkan untuk bisa hidup dan melebur dalam masyarakat yang lebih luas di masa depan. Bukan semata-mata masa depan Ayah Bunda, tapi masa depan Anak-anak kita.


Rumah... adalah sekolah pertama bagi Anak. Jadi, sudah seyogyanya orang-orang di rumah menjadi tempat anak belajar bahasa untuk pertama kalinya dan sebanyak-banyaknya.

“Sampai kapan harus ngomong sebanyak itu?”

Sampai Ayah Bunda merasa sudah memberikan semua pengetahuan yang dibutuhkan Anak, yang itu tidak ia dapatkan darimanapun atau siapapun.

Kita sedang bertarung dengan waktu. Waktu yang semakin lama menjadikan usia anak kita bertambah. Waktu itu pula yang tidak mungkin kembali. Sehingga sebelum kita benar-benar kehilangan banyak waktu, maka mari bersama, kita optimalkan apa yang seharusnya menjadi hak anak-anak kita. Berpengetahuan.